KAU BUKAN IBUKU

9 Mar 2011

hujan gerimis menjadikan malam yang sunyi ini bermusik, kala hujan tak turun malam begitu gelap nan sunyi. Namun kala ia datang, gemericik airnya memadati sudut-sudut kota ini. Aku yang tak pernah bisa tidur di malam hari ini sangatlah senang akan kedatangannya, menemaniku meski membuatku menggigil di teras rumah bersama sarung kusut yang tak pernah ku cuci. Aku tak tahu siapa gerangan wanita yang dengan seenaknya menyuruhku tidur di luar karena ayah tak ada. Sementara ia dan anak yang mungkin lebih tua dari ku tidur di dalam.

Aku tak mengerti apa yang terjadi, tapi aku merasa tersiksa ketika ayah bekerja. Siapa wanita ini, bukan ibuku tapi kenapa tinggal bersama ayah.kenapa pula dia suka marah-marah padaku? ah aku tidak bisa mengerti bisik batinku. Yang terpenting adalah bahwa aku bebas bermain kemana saja dan kapan saja. Ke masjid mengganggu pak Said yang suka marah, mengganggu anjing yang di kurung di dalam trali besi hingga menyalak-nyalak tak karuan, bahkan yang punya anjing sampai bilang awas ya kalo kakak lepasin!!!. Sangat menyenangkan sekali, setelah puas aku akan pergi dan bergurau bersama tukang becak yang mangkal tak jauh dari rumah.

Aku sangat jarang bertemu dengan ayah, paling-paling saat sarapan pagi dan makan siang. Ayah selalu bekerja di malam hari. Sementara ia tak tahu apa yang di lakukan wanita asing ini padaku. Hingga aku pun mengetahui siapa gerangan wanita ini……..

malam itu ayah tidak pergi bekerja, namun ia pulang agak malam dari rumah temannya. Dan ketika pulang ia menemukanku disini, di teras rumah sedingin es bersama sarung kumalku. Beliau serta merta langsung murka dan langsung mendobrak pintu yang terkunci oleh sepotong kayu yang langsung patah. Ayah dan wanita itu, kini saling bentak hingga pak Said bersama abang tukang becak datang memeriksa, menghampiriku yang berdiri mematung kearah pintu yang patah kuncinya lalu mereka masuk. Suara ayah mereda di susul suara wanita itu menangis sesenggukan. Sejenak terdengar suara pak Said yang penuh wibawa, tak lama kemudian ayah keluar di temani abang tukang becak sementara pak Said masih di dalam. Ayah langsung menggendongku masuk dan menidurkanku di kasur yang empuk nan hangat membuatku langsung tertidur. Keesokan paginya ayah memandikanku kemudian memakaikan semua pakaianku yang berjumlah hanya lima. Aku hanya bisa menurut saat ayah kemudian menyuapiku ketika sarapan. Setelah sarapan ayah membawaku meninggalkan wanita asing yang menyerupai monster itu. Meski terasa panas karena pakaian-pakaian yang ku pakai, aku tetap berusaha bertahan. Aku diajak oleh ayah untuk naik bus kota, setelah lama naik bus beliau menghampiri tukang ojek yang tak jauh dari situ dengan aku di gendongnya. Lalu beliau berbicara sebentar dan menaikan ku ke belakang si tukang ojek. Aku pergi bersama tukang ojek setelah ayah memberinya uang dan mencium keningku. Ayah tersenyum saat aku pergi meninggalkannya, senyumannya yang selalu ku sukai itu kini sarat akan penyesalan. Ah, aku mulai menangis sambil memandanginya yang semakin menjauh.

Tak lama kemudian kami berhenti di rumah tua yang tak asing lagi bagiku, karena itu adalah rumah ibuku. Kakak yang melihatku pulang langsung memelukku saat aku turun dari sepeda motor. Ia sangat bahagia karena kepulanganku.

Keesokan harinya aku bertanya pada kakaklu tentang wanita itu, kakak tak langsung menjawabnya melainkan diam mematung. Wajahnya yang mula-mula ceria kini berubah masam. Layaknya hari yang begitu cerah tiba-tiba mendung sangat gelap menyelimutinya juga hati kakaku. Dengan penuh keingin tahuan aku memandangi wajahnya, hingga akhirnya ia kembali dari kekosongan yang tiba-tiba menghantamnya.

Ayah dan ibu sudah berpisah, wanita itu adalah ibu baru ahh……. tidak, kakak gak akan menganggapnya ibu. katanya dengan penuh kesedihan dan wajah yang memucat.

Deg….. sesuatu menghantam dadaku, ada yang mengalir di pipiku membuat suara kakakku menghilang. Rasa tak percaya menyelimutiku, dan akhirnya aku tak pernah ingin bertemu dengan ayah, aku sangat membencinya bersama wanita yang bersamanya.

Aku juga tidak mau menganggapnya ibu…. gumamku pelan. Membuat kakakku langsung memelukku sambil sesenggukan menahan tangis


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post


Categories

Archive